skip to Main Content

Masjid Salman ITB secara resmi meluncurkan buku “SALMAN ITB: Melintas Sejarah Menuju Peradaban Islam Sepadu”. Buku sejarah Salman ini diluncurkan pada acara soft launching dan bedah buku tersebut, Jumat, 13 Agustus 2021 secara daring via Zoom. Peluncuran buku ini juga sekaligus menyambut momen Tahun Baru 1443 Hijriyah.

Acara bedah buku ini menghadirkan tiga pembicara, yaitu Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA., CBE., Dr. H. M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum., serta Jaziar Radianti, Ph.D.

Sebagai Guru Besar Sejarah dan Peradaban Islam di UIN Jakarta, Prof. Azyumardi Azra menyoroti sejarah perkembangan Masjid Salman ITB sebagai lokomotif dari fenomena yang beliau sebut sebagai santrinisasi kaum inteligensia.

Selain itu, Salman menurut beliau telah merambah integrasi (kesepaduan) Islam dengan sains-teknologi dan kemodernan. Beliau mengapresiasi Masjid Salman ITB yang bukan hanya merupakan protoype masjid kampus perguruan tinggi, tapi juga dalam fungsinya yang semakin luas, mencakup berbagai aspek peradaban Islam. Dalam hal ini, beliau mencontohkan ikhtiar pembangunan RS Salman Hospital, serta pengembangan Ventilator Indonesia (Vent-i).

Senada dengan Prof. Azyumardi, Busyro Muqoddas menceritakan pandangannya tentang Salman dengan prototype pelatihan dakwahnya yang diperkenalkan pada tahun 1973, yaitu Latihan Mujahid Dakwah (LMD). Busyro sendiri merupakan alumni LMD Salman pada tahun 1975, ketika ia masih merupakan mahasiswa S1 Hukum di Universitas Islam Indonesia (UII).

Bagi Busyro, model pelatihan seperti LMD ini sangat krusial dalam proses internalisasi integrasi Islam dan intelektualisme bagi para calon pemimpin masa depan. Sebagai tokoh yang pernah menjabat Ketua Komisi Yudisial dan juga Komisi Pemberantasan Korupsi, Busyro memberikan refleksi pada dunia penegakan hukum.

Beliau menyoroti banyaknya “intelektual tukang”, yaitu intelektual berlatar disiplin ilmu tertentu yang menjual keahliannya secara transaksional. Transaksi ini berlangsung pada sejumlah proyek perundangan, mega-infrastruktur, kebijakan keuangan dan pajak, hingga sektor agraria. Menurut Busyro, ini berawal dari nihilnya integrasi keilmuan dan ke-Islaman sehingga intelektualitas tidak punya jangkar moral.

Terakhir, review buku sejarah Salman ITB diberikan oleh Jaziyar Radianti, Ph.D. Jaziar adalah seorang aktivis Salman pada masa 80-an, dan kini telah menjadi associate professor salah satu kampus di Norwegia. Jaziyar mengakui adanya ikatan personal yang sangat kuat terhadap Salman, hingga dapat mengantarkannya ke posisi saat ini.

Bagi beliau, Salman tumbuh seperti pohon kelapa di tepi samudera peradaban dunia. Kelapa-kelapa itu jatuh terbawa arus hingga menyebar manfaat ke seluruh dunia.

___________________________________________________________

Buku “SALMAN ITB: Melintas Sejarah Menuju Peradaban Islam Sepadu” memiliki spesifikasi:

  1. Ukuran 23×27,3 cm
  2. Tebal 284 halaman (13 bab)
  3. Kertas Isi Matte paper/LWC full color
  4. Hardcover dengan jaket, laminasi doff dan embossed pada judul
  5. Tiras/cetak 1.000 exp

Harga pre order (diutamakan bagi peserta acara) Rp 250 ribu Rp 200 ribu

Selesai cetak insya Allah pertengahan September 2021

INFO PEMESANAN
📱 https://wa.me/6282320489581 (Dhany)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top