skip to Main Content

Childfree adalah sebuah gaya hidup menolak melahirkan, mengadopsi, atau dengan kata lain memiliki anak bagi pasangan yang sudah menikah meski mereka memiliki kemampuan reproduksi yang sehat. Penganut Childfree percaya bahwa pilihan tersebut merupakan manifestasi evolusi tertinggi masyarakat: di mana setiap perempuan boleh “mendobrak” tuntutan sosial untuk tidak melahirkan, karena berbagai alasan.

Dari kampanye Childfree yang beredar di media sosial, argumen-argumen seperti ketidaksiapan finansial dan emosional jadi pertimbangan utama. Tren tersebut mulai meningkat di Indonesia, apalagi mulai banyak public figure yang mengumumkan -bahkan melakukan normalisasi gaya hidup yang berasal dari Negara-negara Barat tersebut.

Dari sudut pandang Islam, sudah tentu tidak ada istilah Childfree atau menolak berketurunan. Apalagi pada pasangan yang sudah menikah. Psikolog sekaligus penggerak Pendidikan Aqil Baligh Adriano Rusfi menjelaskan, ada baiknya kita meninjau ulang alasan seseorang memilih menikah. Alasan pertama, karena ketertarikan. Alasan kedua tentu, karena sudah Aqil baligh. Dengan kata lain, seorang Muslim diperbolehkan menikah, dengan syarat ia mampu memahami serta bertanggungjawab pada perintah Allah dan larangan-Nya.

“Kenapa sih, harus Aqil baligh? Karena telah ada kesanggupan untuk reproduksi. Alhasil, salah satu tujuan utama dari pernikahan adalah punya anak,” tukas Salah seorang narasumber ahli kegiatan Sekolah Pra Nikah (SPN) Salman ITB tersebut. “Lalu untuk apa menikah kalau tak ada motif punya anak? Kalau menikah tak berurusan dengan punya anak, tidak usah menunggu Aqil baligh.”

Dalam Islam, tidak mendayagunakan fungsi tubuh adalah jahil. Sedangkan mendayagunakan fungsi tubuh secara berlebihan adalah zalim. Keduanya, menurut pria yang akrab disapa Bang Aad itu, sama-sama bentuk dosa. Dengan kata lain, perempuan yang sengaja tak mendayagunakan rahim dan payudara atas nama hak atas tubuhnya, telah berdosa. Padahal otoritas atau daulat selalu beriringan dengan tanggungjawab. Begitupula tanggungjawab seorang perempuan terhadap fungsi organ tubuhnya, termasuk rahim yang berfungsi untuk mengandung.

Ia pun menampik alasan bahwa Childfree pilihan logis seseorang yang tidak memiliki ilmu parenting. “Mendidik anak itu naluriah. Binatang toh bisa mengasuh anaknya dengan sangat akurat bermodal naluri, tanpa pernah belajar parenting. Kalau dalam perspektif Islam, Allah tidak akan menyerahkan amanah (anak) kepada mereka yang tidak kompeten memikulnya (dalam sisi parenting),” lanjutnya lagi.

Lebih lanjut Bang Aad menjelaskan, gagasan Childfree bertentangan dengan konsep “Id” atau naluri. Id adalah seluruh insting dasar yang dimiliki manusia, baik life instinct (seks), maupun death instinct (agresi), yang ada dalam rangka mempertahankan kehidupan atau regenerasi. Bisa disimpulkan, gagasan Childfree justru menyalahi fitrah manusia itu sendiri.

Pada sisi terang, bisa jadi ini adalah kehendak Allah untuk mengurangi populasi orang-orang yang membenci Islam dengan membuat mereka enggan punya anak. Sedang sebaliknya, Rasulullah Saw. justru bersabda agar kita “berbanyak-banyak” atau berketurunan. “Ini adalah Nubuwwah bahwa kelak kita akan menggantikan mereka. Maka bermigrasilah ke negeri-negeri mereka, untuk menggantikan populasi mereka yang semakin berkurang. Seperti Jepang, Jerman, dan sebagainya,” ujar Bang Aad.

Ia pun optimis pada gerakan kampanye nikah muda yang ramai digalakkan aktivis dakwah. Hanya saja, semangat itu harus disertai dengan ilmu. “Jangan sampai nikah muda lalu cerai. Itu kan, kontraproduktif namanya,” tutupnya.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top